KETIKA SELEMPANG INI HARUS KAMI LEPASKAN

Para DWI 06 dan 07 udh pada lengser tp tetep selempangan

Ha..kembali lagi menulis tentang duta wisata...ngga tau knp? Ketika menulis hal duta wisata..kayaknya lancar aja..bukannya mengistimewakan hal ”duta wisata’ dalam hidupku, tapi gmana dunk..semangat duta wisata ini yang membuat aku pengen trus menulis dan menulis....

Aku dan semua duta wisata yang ada di Indonesia pastinya masih mengingat jelas saat pertama kali menerima selempang kemenangan kita di tingkat Provinsi, juara berapa pun kita, pastikan kita akan menerima selempangan.

Kalau dulu aku pernah menulis tentang selempanga, nah di tulisan ini lebih bercerita tentang selempangan dan Duta Wisata.

Bagi seorang duta wisata (menurut aku nich)selempangan adalah identitas diri sebagai seorang duta dari sebuah provinsi. Memiliki selempang sebagai Duta Wisata berarti sejumlah tanggung jawab ada di pundak kita (iya dunbk..selempangan kan ada di pundak kita..he..he..)

Yup, kita para duta wisata merupakan representatif dari pemuda yanga da di provinsi tersebut, kita berkewajiban untuk bersikap selayaknya seorang duta, mempromosikan potensi wisata pastinya.

Selain itu selempang juga menjadi identitas kita saat bertugas ke provinsi lain..selempang menjadi benda yang wajib di bawa selain baju kebesaran buat tugas..he..he...Setiap provinsi memiliki bentuk selempangan yang berbeda-beda..biasalah Indonesia..beragam....

Tapi saat kita maju ketinggkat nasional , yaitu saat pemilihan duta wisata Indonesia..selempang semua duta wisata ditukar dan menjadi seragam...(kyk di foto).Kembali lagi..apapun bentuk selempang itu, kita para duta wisata pasti bangga sama selempangannya.

Masa jabatan seorang duta wisata umumnya di setiap provinsi adalah 1 tahun, setelah satu tahun kita harus menyerahkan selempang kepada junior kita dab berakhirlah masa jabatan kita.

Saat selempangan ini harus kami lepaskan..perasaannya adalah? Sedih, senang dan lega. Sedih karena berakhir sudah masa jabatan, senang karena sudah memiliki junior dan lega karena kita sudah selesai menjalankan tugas duta wisata kita.

Trus apakah selempang ini harus kita gantung rapi di dalam lemari setelah kita lepaskan. Tidak pastinya..banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai mantan...
What mantan??? Aku merasa ngga akan ada kata mantan bagi seorang duta wisata..karena sampai kapan pun kita tetap akan menjadi duta wisata baik bagi diri kita, kelurga dan masyarakat dari provinsi kita..

Kita tetap bisa menjadi pengurs bagi ikatan / paguyuban duta wisata prov kita atau klu dinas nya masih peduli mungkin kita masih sesekali di ajak bertugas. Tapi klu ngga juga, minimal selempang itu masih bisa kita kenakan ketika menghadiri malam final pemilihan di tahun-tahun mendatang.

So, ketika selempang ini harus kami lepaskan, jangan pernah gantung selempang mu dan tetaplah bersikap selayaknya seorang duta.

Comments

Piyoh said…
Oyi, aku setuju tu Nong...ngga ada namanya 'Mantan'. kan susah tu nyari gelarnya, kayak ikut kuliah berapa semester 1 tahun, lulus! ya tinggal kita membawa diri kita berguna dengan ilmu yang kita dapat di duta wisata..
Semangat ya!!
Dear,
Mengulas ttg "Ikatan/ Paguyuban" itu sama halnya dg management artis yg bekerja utk 'mempromosikan' para anggotanya agar memiliki pekerjaan.

Dlm berbagai event (termsk PDWI) tlh terjd salah tafsir dr peserta bhw seusai acara...peserta akan mendpt (atau wajib diberikan) tugas dr penyelenggara acara kompetisi atau event yg tlh diikuti.

Pdhal izin/ prosedural/ aturan main yg dimilki oleh penyelenggara adalah hanya sebatas mengadakan acara. Hal ini tidak boleh dilanggar atau dikembangkan semaunya, krn sudah ada peraturannya.

Lalu bagaimana kelanjutan nasib para peserta seusai acara?

Nah simak/ contoh yang dilakukan oleh para peserta Abang None dulu. Seusai acara, mereka membentuk "Ikatan Abang None". Yg didirikan oleh mantan peserta acara Abang None sendiri.

Ikatan itu berdiri, bukan oleh yayasan/ penyelenggara acara tsb, tp oleh mantan peserta acara.

Didlm hal berdirinya 'Ikatan' ini, penyelenggara hy berposisi sbg penasehat ikatan dan sbg pemilik lisensi yg akan memberikan izin (atau tidak memberikan izin) berdirinya ikatan.

Sama halnya dg Putri Indonesia, siapa yg selanjutnya mempromosikan mrk? Penyelenggara? Bukan. Tp pihak management dan atau pihak sponsor acara tsb.

Bgmn dg Miss Indonesia? Sama kok. Bukan penyelenggaranya.

Lalu bgmn dg Indonesia Idol dibidang tarik suara? Sama aja, yg mencarikan job ya managementnya IP Production (bukan peyelenggaranya si Fremantlemedia itu).

Nah sampai di sini sdh jelas?

Kita lanjut ya...

"Ikatan" itu, berdiri atas dan dari kemauan kerja & keinginan positif para peserta (mantan peserta) nya thd masa depan mereka sendiri serta kelangsungan acara (dlm hal ini acara: PDWI).

Dg arti lain, ikatan juga merupakan marketing untuk para angotanya maupun marketing sponsor bagi kelangsungan acara tahun demi tahun (nanti diulas lbh banyak di bawah). Dr job yg didapat, tentunya akan ada pemasukan berupa honor bagi anggota yg terpilih/ bekerja. Dan sbg marketing sponsor utk acara PDWI, tentunya juga ada komisi/ fee nya.

Sedikit berbeda dg event Indonesia Idol, yg dimana udah pasti banyak management yg ingin mengikat & mempromosikan para peserta acara tsb, berhubung mereka memang mengadakan acara ke 'artisan'. Tp beda dg kita yg mengadakan acara kepariwisataan dg bentuk kompetisi para duta wisata, jelaslah...mana ada management yg 'melamar' utk mempromosikan spt halnya Indonesia Idol, so hrs didirikan sendiri (spt Ikatan Abang None)

Jk hal tsb di atas sdh dpt dipahami oleh semua pihak, termasuk pandangan/ pemikiran yg salah turun temurun thd fungsional yayasan atau penyelenggara (yayasan dan provinsi) setelah acara, maka tdk akan terjd lg kesalah pahaman dan semua dpt berjalan di relnya masing2 & berjalan dg lurus ...hahaha

Krn utk diketahui, setelah acara, yayasan kembali bekerja utk persiapan acara lagi. Begitu seterusnya utk setiap tahun.

Lalu, bagaimanakah berdirinya Ikatan & apa saja yg perlu dilakukan?

Ikatan dipelopori oleh para mantan peserta (harus mantan peserta, krn memang anggotanya hrs disaring terlebih dulu melalui kompetisi tsb, agar memiliki kompetensi yg tepat). Namun pd pelaksanaannya, bs saja dikerjakan oleh tenaga luar sbg tenaga kerja yg membantu.

Stlh calon anggota organisasi terkumpul, diadakanlah meeting bersama dg yayasan, utk meminta izin berdirinya 'Ikatan'.

Stlh izin resmi diberikan, maka ikatan bisa mulai bekerja. Diantaranya: datang ke Budpar utk menawarkan kerja sama dalam bidang PROTOKOLER.

Nah, inilah yg selalu diharapkan oleh DWI bukan? Bhw tugas protokoler diberikan seusai acara. Di sini letak benang kusutnya, yaitu tugas protokoler adalah datangnya dari DepBudpar (bukan dari yayasan, sekali lagi yayasan hanya pemilik resmi lisensi & hy bertanggung jawab mengadakan acara). Bila Ikatan tidak segera dibentuk, bagaimana kegiatan protokoler didapatkan? Karena...selama ini Ikatan DWI tlh ditunggu-tunggu oleh bid. Pemberdayaan Budpar, namun Ikatan DWI sampai skrg tdk juga dibentuk (mungkin krn kesalaha pahaman/ pengertian yg ada selama ini). So, benang kusutnya adalah Budpar menunggu IKatan DWI, sementara para DWI belum membuat Ikatan & menunggu job dtg sendiri...ya jadinya saling tunggu ...hehehe

Lanjut.
Disinilah pentingnya Ikatan segera dibentuk.

Next. Mengatasi benang kusust tsb, maka Pengurus Ikatan dtg ke Budpar bersama pihak yayasan (atau membawa surat dari yayasan) utk memberitakan Ikatan DWI tlh terbentuk dan siap bekerja sama dg Budpar dlm berbagai kegiatan Budpar (diantaranya ke protokoler an)...inilah yg sama dilakukan oleh Ikatan Abang None.

Seusai ke Budpar, jangan berhenti sampai di situ & nunggu datanganya 'bulan'. Lakukan follow up secara rutin, agar job protokoler tdk 'pergi' ke Ikatan/ Paguyuban lain.

Pekerjaan lain dr Ikatan adalah menjalin kerja sama (network) dg berbagai perusahaan - production house - media - agency/ advertising - dll, agar anggota ikatan mendpt pekerjaan/ job (sbg Presenter/ MC/ Artis/ Juri/ Pembicara/ Usher/ dll)

That's all. Itu semua bs berhasil bila ada kemauan (awali dg membentuk Ikatan, dan bukannya job disediakan oleh yayasan atau dtg sendiri)

Memang sulit bagi DWI menjalankan semua hal tsb di atas, tp 'melempar' hal tsb sbg kewajiban yayasan..juga salah prosedur. Mau tak mau, mesti dimulai pendirian Ikatan agar masa depan DWI seperti masa depan Abnon, Putri Indonesia, Miss Indonesia dll.

Kesulitannya Ikatan DWI terbentuk krn masalah tiket - akomodasi dll, betul gak? Nah dipikirkanlah. Krn memang membentuk organisasi/ usaha diperlukan modal serta tekad yg kuat. (maaf cape nulisnya, krn perlu berkumpul utk menjelaskan hal ini)

Semoga sukses!

nb: Maaf jika ada cara penulisan yg salah/ menyinggung, soalnya wkt nulis...perutku lapeeeerr banget.
Dan tulisan tsb bukan utk membela yayasan, krn sayapun bukan org yayasan. Saya hy org luar yg sering menangani berbagai event & menemukan kesamaan persoalan dlm bbrp event. Lalu sy perhatikan event2 yg berkembang pesertanya, ternyata benang kusutnya ya spt yg saya tulis di atas. Terima kasih (saya mau makan dulu ya..)
Wah ternyata comment sy yg berniat utk memberi spirit agar teman2 & adik2 yg bergabung di event ini agar dpt mandiri & lbh berkembang dg membangun "Ikatan"...menimbulkan kesalah pahaman.

Sebelumnya, sy pernah bercita2 membwt management atau Ikatan utk menjd sarana mencari job bg para alumni, berhubung sy melihat peluang besar utk memajukan para alumni yg sangat berpotensi besar dlm perkembangan di berbagai bidang.

Cita-cita tsb muncul krn sy juga melihat link kerja sy yg memungkinkan utk mempromosikan para alumni (misalnya) ke dunia entertaintment (spt film, ftv, sinetron, iklan, mc/ prsenter, usher)

Namun, sy sadari bhw yg berhak membwt Ikatan tsb adlh para alumninya sendiri. Ini juga sy hubungkan dg kondisi berdirinya Ikatan - Ikatan lain yg tlh ada/ berkembang stlh sebuah event selesai.

Kemandirian yg mau sy jelaskan, malah menimbulkan teguran melalui sms ke hp sy.

Maka sy ingin menyampaikan bhw di luar hal tsb di atas, sy tdk tau apapun serta tdk ikut campur, krn sy hy memberi komentar sebatas masalah ikatan & keuntungan apa saja yg bs di dapat bila terwujudnya ikatan tsb.

Tetapi sy juga ingin menyampaikan bhw sy tdk ada niat jelek thd para alumni yg tlh sy anggap sbg teman serta adik sendiri.

Bila niat sy utk membantu dg memberi comment, dianggap salah, maka saya mohon maaf dan tidak akan melakukan apapun lagi setelah ini. Kecuali sebatas bidang koreografi di venue di acara yg telah lalu (spt yg ditegaskan oleh pengirim sms yg menamakan dirinya atas nama alumni DWI ke sy)

Terima kasih atas kritikan yg sy terima. Semoga ini dapat mewakili keinginan sy berniat baik & tdk menimbulkan kemarahan serta kesalah pahaman.

Salam
Damay said…
Wa..dah seminggu ngga buka blog..(aku cuman sempet seminggu sekali buat ngisi blog) udh ada 2 comment.

Mas emir, aku dah baru baca comment mu, thanks mas masukkannya..nanti aku bicarakan dengan teman-teman DWI yang lain.

Thanks juga mas, dah main ke blog damay.he..he..
sering2 yach mas kasih comment tulisan aku.biar aku makin rajin nulis...

see u

Popular Posts