Aku dan Hujan

Nah ini tulisan kedua aku, tema ke 23 nya yaitu Aku dan Hujan. Pas liat tema itu langsung terinspirasi sama pengalaman sendiri jaman sekolah yang harus naik ojek walaupun lagi hujan. Judul yang aku pake sebenarnya adalah "Aku (dulu) Sahabat Hujan" tapi di publish dengan judul " Aku dan Sahabat Hujan yang (dulu) aku"
Berikut tulisannya.....


Suara gemuruh di langit terdengar sampai di kamarku.

“Yah.., mau hujan lagi nih,” batinku dalam hati.

Hampir 5 tahun terakhir ini aku tidak suka jika hujan datang, entah apa yang membuat aku tidak menyukai datangnya hujan. Padahal dulu aku bersahabat dengan sang hujan, suka dan duka aku lewatkan bersama sang hujan.

***

Dulu, setiap pukul 06.30 sebuah motor merah sudah menungguku di depan rumah untuk mengantarkanku berangkat ke sekolah. Saat langit terang benderang tidak ada masalah dalam perjalananku menuju ke sekolah. Aku pun sampai di sekolah dalam keadaan kering. Namun beda cerita saat langit berubah gelap dan hujan turun, berarti saatnya mengenakan jas hujan andalanku sebagai tambahan atribut seragam sekolah.

Saat hujan turun, dia membasahi jas hujanku dengan kencangnya. Aku bisa merasakan tetes-tetesan air hujan di badanku walaupun tidak langsung karena terhalang jas hujan. Mukaku? Ya, Kulit mukaku merasakan langsung tetesan air hujan itu.

Temanku mengatakan, “Keukeuh banget sih naik ojek walaupun hujan!” Jawabku saat itu, “Menyenangkan naik ojek saat hujan karena aku bisa merasakan langsung tetesan air hujan yang turun, dan hujan memberikan aura positif bagiku di pagi hari.”

Aku benar-benar bersahabat dengan hujan, aku suka sekali dengan hujan baik itu hujan rintik-rintik sampai hujan deras. Saat hujan rintik-rintik aku menikmati jatuhnya air-air halus dari langit, sejuk rasanya. Lalu saat hujan mulai deras dan aku berada di atas motor maka aku akan meminta agar laju motor dipercepat karena sensasi air hujan yang jatuh ke kulitku saat motor dalam keadaan kencang itu luar biasa, seperti ada tekanan-tekanan berbeda di badanku (seperti refleksi).

Hujan itu sahabatku, hujan tak pernah menjadi hal yang menyusahkan bagiku dan hujan tak pernah membuatku sakit. Walaupun hujan turun aku tetap bisa menjalankan semua aktivitasku, aku tetap bisa berangkat sekolah, les atau pergi ke mana pun. Hujan membuatku berteman akrab dengan jas hujan dan payung.

Kisah cintaku juga kubagi dengan hujan, melalui hujan dengan pujaan hatiku di atas motor merupakan hal romantis bagi aku dan dia. Ya, semua aku bagi dan aku lewati dengan sang hujan karena dia sahabatku…

Tapi….hujan mengkhianatiku walaupun aku tahu sebenarnya hujan tak bermaksud begitu dan mengecewakan aku. Hujan mulai mengganggu aktivitasku, hujan mulai membuatku jatuh sakit bahkan hujan rintik-rintiknya berhasil membuatku demam. Awalnya aku masih mentoleransi hal itu tapi saat hujan sudah membuat tanggul di belakang rumahku jebol dan membuat aku kebanjiran sampai seleher, aku benar-benar kecewa dengan hujan. “Hai Hujan, engkau kan sahabatku..kenapa kau membuat aku dan yang lainnya menderita?”

Mulai saat itu, ya, mulai saat itu hubungan persahabatan aku dan hujan mulai merenggang, aku mulai menjaga jarak dengan hujan. Aku mulai takut jika hujan turun, aku mulai takut saat hujan membasahi kepalaku, karena aku pasti demam. Aku mulai menjauh dan menghindari hujan.

Di lubuk hatiku, aku merindukan hujan saat menjadi sahabatku. Aku rindu tetesan airnya di badanku, aku rindu suara gemerincik air saat hujan dan aku rindu harum tanah setelah hujan membasahinya. Tapi aku punya rasa takut…rasa yang seharusnya tidak ada untuk sahabat….

Hai Hujan….aku senang dulu bisa bersahabat dan aku yakin suatu hari nanti kita akan kembali bersahabat.


Comments

Popular Posts