Bangkrut/ PHK

Tema selanjutnya, aku milih yang PHK aja berikut ceritanya

Idealisme

Siapa pun pasti akan merasa beruntung memiliki suami seperti abang Reno, dia sosok pria idamanku soleh, pinter, tampan dan pekerja keras. Lima tahun berumah tangan dengannya aku seperti diberi surga dunia oleh Tuhan. Bang Reno yang perhatian, sepasang anak yang sehat serta posisi karir bang Reno yang semakin menuju puncak.

Untuk meningkatkan karirnya, Bang Reno menerima tawaran untuk ditempatkan sebagai kepala keuangan di kantor cabang yang berada di Medan. Tak ada alasanku untuk menolak ikut pindah ke Medan toh anak-anakku masih kecil dan aku pikir ini semua untuk masa depan anak-anakku.

***

Sejak awal aku tahu posisi suamiku ini rentan dengan yang namanya korupsi, semua orang menginginkan posisi ini. Tapi syukurlah dengan iman dan idealism suamiku sampai saat ini dia masih menjadi orang yang bersih, setiap bulan aku tahu jumlah penghasilan suamiku sesuai dengan slip gajinya, jika ada uang lebih aku selalu bertanya dari mana uang tersebut dan suamiku selalu memastikan uang itu bersih.

Sampai suatu hari suamiku yang selalu menceritakan pekerjaannya kepadaku mengatakan sesuatu yang mengejutkanku

“ Dina, abang diajak Korupsi” suamiku berbicara perlahan namun tetap mengejutkan aku

“Istigfar bang..istigfar kamu jangan sampe korupsi , dosa bang” aku coba mengingatkan suamiku.

***

Di tempatkan di kantor cabang sebagai kepala keuangan akan menjadi batu loncatanku untuk mendapatkan posisi yang baik di kantor pusat. Semua kerja keras aku hanya untuk Dina dan anak-anakku.

Dina tidak keberatan saat harus menemani aku pindah ke kantor cabang, Dina juga sumber kekuatanku kekuatanku untuk bertahan di lingkungan kerja yang sarat dengan praktek korupsi. Dina selalu mengingatkan aku untuk hal itu.

Rumor tentang korupsi atau kecurangan sering terjadi di kantor cabang yang selama ini hanya aku dengar dari teman-teman di pusat itu ternyata benar adanya. Aku bukan hanya mendengar atau melihat praktek korupsi di kantor ini tapi aku yang diajak berkerjasama melakukan kecurangan, aku diajak korupsi.

Dari awal aku sudah menegaskan bahwa aku kerja bersih dan jujur, aku tidak mau diajak bekerja sama untuk melakukan kecurangan dengan menanda tangani berkas yang deretan angkanya sudah diubah. Memang sebagai kepala keuangan, aku memiliki wewenang untuk menandatangani berbagai berkas.

Mereka sudah menganggap korupsi dan persekongkolan ini wajar dan hal yang biasa terjadi, mereka terus me-lobby aku untuk melakukannya , menjanjikan sejumlah uang jika aku mau menandatangani berkas itu serta menjamin kalau praktek ini tidak akan diketahui dan dipastikan ancaman phk tidak akan kenapa kepadaku.

Sudah sebulan ini mereka terus menerus mendesakku, sampai dihari ini berkas itu ditaruh dihadapanku

“Sudahlah Reno, kamu tinggal tanda tangan aja” kata rekan kerjaku yang enggan ku sebut namanya sambil memberikan sebuah pulpen kepadaku.

“Iya Reno tinggal tanda tangan terus cek ini akan kami serahkan kepadaku dan kami jamin hanya kita bertiga yang tahu hal ini. Jadi kamu aman lah Reno” tambah rekan kerjaku satu lagi.

Ku tatap wajah kedua rekan kerjaku itu, ku liat berkas yang ada dihadapanku lalu ku angkat pulpen yang sudah disiapkan mereka.

***

Aku masih terus menatap kertas itu tapi pikiranku sudah entah ada dimana. Kertas itu menghancurkan suamiku, aku dan mungkin masa depan anak-anakku. Kertas itu menyatakan bahwa terhitung awal bulan nanti suamiku resmi tidak menjadi karyawan perusahaan itu lagi.

“Jadi gimana bang?” tanyaku memecah kesunyian ini

“Kita harus berkemas Din, secepatnya kita harus tinggalkan rumah dinas ini dan kembali ke Jakarta” jawab Bang Reno sambil terus menunduk.

“Iya bang, aku akan memberekan semua untuk mengurus kepindahan kita” aku coba terlihat tegar dihadapan bang Reno.

Akhir minggu ini kami harus segera meninggalkan rumah dinas dan segala fasilitas yang kami nikmati selama ini, kami harus kembali ke Jakarta dan memulai semuanya dari nol lagi. Tapi bagaimana aku dan bang Reno harus memulainya lagi?

Seharusnya aku tidak harus bingung karena sudah ada setumpuk uang yang dijanjikan rekan kerja suamiku untuk persekongkolan mereka tapi kenyataannya tidak begitu suamiku di PHK bukan karena dia menanda tangani berkas tersebut tapi karena dia tetap bertahan dengan idealismenya untuk terus jujur.

***

Saat aku mengangkat pulpen, sekilas kulihat senyum di wajah kedua rekan kerjaku. Tapi seketika ku letakkan kembali pulpen itu dan aku robek berkas dihadapan mereka. Mereka murka sejadi-jadinya kepadaku, sebelum meninggalkan ku mereka melontarkan sebuah ancaman bahwa aku akan menyesal karena tidak mau bekerjasama dengan mereka.

Ternyata mereka benar-benar menjalankan ancaman itu, mereka merancang sebuah skenario kecurangan baru dimana aku menjadi korban dalam kecurangan ini dan surat pemberhentian dari kantor pusat pun aku terima.

Aku kecewa dengan semua ini, aku tahu karirku di perusahanan ini hancur tapi aku tidak boleh terlalu lama terpuruk. Aku punya Dina dan sepasang anak yang membutuhkanku. Mereka pasti bangga karena aku di PHK bukan karena kecurangan yang aku perbuat tapi karena idealism yang terusku pertahankan.

Comments

Popular Posts