Bencana Alam


Tema yang pertama adalah Bencana Alam, kebayangnya tuh gempa bumi, merapi terus banjir. Okey saya pun memilih banjir sebagai latar belakang cerita ini, sebenernya takut banget ngebayangin suasana banjir. Nah begini jadinya cerita yang berjudul

Banjir Menyatukan Kami

Aku si bontot yang mempunya 2 kakak perempuan dan 2 kakak laki-laki, mereka sudah menikah semua dan tinggal dirumah masing-masing. Dirumah hanya ada aku, ibu dan Ayah serta perawat Ayah. Ayah sudah 2 tahun terakhir ini terserang stroke dan lumpuh.

Mbak dan Masku memiliki karir yang cemerlang, seharusnya aku bangga dengan apa yang mereka miliki tapi karir mereka itu yang membuat mereka sibuk sehingga jarang mengunjungi Ibu dan Ayah. Mereka memang selalu mengirimkan uang bulanan tapi aku tahu bukan itu yang ibu dan ayah harapkan. Mereka pasti mengingkinkan kehadiran mereka dan melihat anaknya berkumpul.

***

“Rika, bilang mbak sama mas mu ya..kiriman mereka sudah ibu terima. Tanyakan kapan mereka mau main kerumah. Ibu sama Ayah kangen.” Itu kata-kata ibu sebelum aku berangkat kuliah.

“Iya bu, sebenernya aku udah telpon mereka semalam. Mereka bilang kalau ngga sibuk akan datang kerumah. Oh iya bu, kata mereka ibu dan bapak jaga kesehatan ya lagi musim hujan nih. Jawabku sambil pamit ke ibu.

Memang memasuki bulan Februari ini hujan turun tanpa henti, setiap harinya hujan. Sebenarnya aku tidak perlu khawatir dengan hujan yang turun terus menerus ini karena selama 25 tahun aku tinggal disini tidak pernah terkena banjir. Bahkan saat teman-temanku sudah mulai tidak masuk ke kuliah karena rumah mereka kebanjiran, aku masih bisa datang ke kampus dengan selamat.

Namun hari ini sedikit berbeda, matahari terang menderang. Aku malah heran kemana hujan yang kemaren-kemaren itu turun dengan lebatnya. Sudahlah anggap saja ini rejeki bisa ke kampus tanpa kehujanan.

Siang harinya mbak ku yang paling besar mbaj Maya menelpon aku “ Dek Rika, kamu hari ini jangan pulang malam-malam ya.”

“Kenapa mbak? Aku mesti ngerjain tugas pulang kuliah nanti” jawabku merasa tidak suka disuruh pulang cepat.

“Dek, kesian ayah sama ibu , aku denger katanya mau ada Banjir di daerah rumah kita dek. “

“Ya ngga mungkin banjir mbak, orang hari ini kering ngga ada hujan masa banjir. Atau mbak Maya atau mas Dito aja yang mampir kerumah, nemenin ibu dan Ayah.”

“ Kamu ini dek, dibilangin ngeyel, aku denger dari temen kantorku katanya tanggul deket rumah itu udah tinggi banget airnya, bisa aja nanti luber. Kami ngga bisa dek, ini hari kerja”

Mbak Maya mengakhiri telp dengan terus meminta aku agar jangan pulang malam.

***

Bukannya aku ngeyel dan ngga mau dengerin kata-kata mbakku tapi aku harus mengerjakan tugas. Pukul 9 malam aku baru sampai daerah rumahku, aku bingung kenapa tetanggaku semuanya sibuk memindahkan mobil ke tempat yang lebih tinggi. Jantungku berdetup kencang, aku langsung berlari kerumah.

“Ibu, kenapa tetangga pada mindahin mobil semua” tanyaku saat sesampainya dirumah. Ibu menjawab pertanyaanku sama persis seperti apa yang mbak Maya katakana kepadaku tadi siang.

Setelah hampir seharian panas, hujan pun turun dan aku tertidur lelap.

***

“Mbak Rika….mbak Rika…mbak Rika…..” Tini, perawat Ayah mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Aku bangun dan akan membuka pintu tapi saat ku pijakkan kaki dilantai aku kanget “hah!air?”

Seketika aku panik , keluar kamar dan melihat Tini sudah dengan muka paniknya juga. “Tini, ini banjir dari kapan?” tanyaku sambil jalan menuju kamar Ayah.

Ternyata tanggul dekat rumahku itu jebol karena hujan semalam menambah volume air dan tanggul yang sudah tua itu tidak sanggup menahan lagi. Dari Tini aku tau kalau air mulai masuk rumah pukul 5 pagi.

Para tetangga mulai berdatangan kerumah untuk membantuku karena mereka tau keadaan kami dirumah. “ Ayo Rika mulai berkemas, naik-naikin barang ke atas. Dalam 1-2 jam air yang menuju ke komplek kita akan semakin banyak” kata tante Leni sambil mengangkat barang-barangku.

Aku, Tini dan para tetangga yang baik hati berusaha memindahkan barang ke lantai 2, aku lihat air terus naik. Ibu aku minta untuk diam di lantai 2, lalu ayah? Aku bingung apa yang harus aku lakukan.

“ Mbak Maya, kita ke Banjiran?”

“Ya udah kalian pada ngungsi ke hotel aja, ntar mbak yang urus”

“Gimana caranya mbak, airnya udah tinggi banget, ya udah aku coba bertahan dirumah aja deh nanti aku minta tetangga buat angkat ayah ke atas”

Aku tidak tega melihat Ayah yang dalam keadaan lumpuh harus diangkat ke atas, aku tau beliau tidak nyaman dengan keadaan itu.

4 Jam berlalu sejak air pertama kali masuk, aku lihat tetanggaku mulai meninggalkan rumahnya karena mereka takut air terus naik. Tetanggaku pun memintaku untuk segera tinggalkan rumah, tapi bagaimana mungkin siapa yang bisa mengangkat ayah sampai ke depan komplek.

Mbak dan Masku terus menerus menelponku dan membujukku untuk segera keluar dari rumah.

“Sudah dek, ngga usah mikirin harta. Mending kamu sama ayah dan ibu selamat” Kata mas Dito melalui telpon.

“ Mas, siapa yang mikirin harta..aku tuh mikir siapa yang bisa angkat Ayah” keadaan ini membuat aku emosi.

Air terus memasuki rumah, semakin naik dan naik. Saat aku coba turun kebawah air sudah sepinggangku di dalam rumah. Aku tau air akan terus naik, mungkin saja seleherku atau bahkan menenggelamkan rumahku.

***

Di Lorong rumah sakit aku terduduk lemas di depan pintu kamar ayah, kakak-kakaku berhasil menembus banjir dan sampai di Rumah Sakit dengan bersamaan.

Dek Rika, gimana keadaan ayah? Tanya mbak maya

Semua mata bertuju kepadaku, mereka menunggu jawabanku dengan wajah cemas.

“Alhamdulillah Ayah selamat dari Banjir mbak, mas. Sekarang dokter sedang memeriksa ayah untuk memastikan kondisinya. Untunglah pihak rumah sakit ini mau mengirim ambulan dan dengan membawa tandu masuk kerumah untuk membawa Ayah dan kami ke sini.” Jawabku panjang lebar.

“Alhamdulillah” mbak dan masku bersamaan bersyukur akan keadaan bapak, dan kami berlima pun berpelukkan.

***

Dari dalam kamar ayah, ibu melihat saat kami berlima berpelukkan “ Ya Allah, ada hikmah dibalik bencana ini, mereka berkumpul”

Comments

Popular Posts