Bunuh Diri


Temanya kali ini adalah bunuh diri, ngga kebayang mau bikin cerita kayak gimana. Akhirnya di kasih ide sama mbak diana buat bikin bunuh diri dalam versi lain, maka jadilah cerita ini

Bagaimana nasibku

Dari tempatku berada saat ini aku bisa melihat Mira yang sedang sibuk menarik keluar kopernya dari lemari. Dari tempatku ini aku juga dapat mendengar percakapan antara Mira dan Ibu.

“ Mir, seminggu lagi loh”

“Iya bu, jadi ngga sabar deh”

“Kamu bawa barang yang perlu aja ya, ngga usah semuanya dibawa”

“Iya bu” Mira masih terus memilih barang untuk dimasukkan ke koper.

Sambil mengelus kening Mira “ ngga terasa ya kamu udah besar, sudah mau kuliah.”

“Iya dong bu, masa aku kecil terus” Mira menjawab sambil memeluk ibu.

Aku iri melihat dan mendengar percakapan Mira dan ibu. Seketika kenangan itu muncul saat pertama kali Mira membawaku ke rumah ini tepatnya kamar ini. Aku tidak hanya diam di tempat karena Mira selalu menggendongku kemanapun, hanya saat dia mandi baru dia melepaskan aku. Aku pun rela saat badanku kotor terkena makanan Mira karena Mira terus ingin menggedongku saat dia sedang makan.

Saat malam tiba dan Mira bersiap tidur maka Mira akan memeluk erat diriku dan aku akan ikut tertidur bersamanya. Dan saat pagi tiba, saat Mira membuka mata maka aku yang pertama dia cari karena aku terlepas dari pelukkannya.

Aku menemani Mira setiap hari, aku tahu apa yang Mira alami di sekolah, aku tahu kapan Mira senang, sedih atau bahkan pada saat Mira jatuh cinta untuk pertama kali karena Mira selalu bercerita kepadaku. Saat Mira duduk di bangku SMP, Mira mulai jarang menggendongku tapi tak masalah bagiku karena Mira masih memelukku setiap malam.

Tapi sejak SMA , Mira sudah benar-benar jarang menggendong dan memelukku, Mira hanya memelukku saat dia bercerita sambil menangis kalau ada laki-laki yang menyakitinya. Terkadang malah Mira mengganti tempatku dengan sesuatu yang diberi oleh pria tercintanya Mira, “ah, aku ngga suka kalau ada penghuni baru di kamar Mira apalagi kalau menjadi pusat perhatian Mira” keluhku saat itu tapi Mira tidak pernah mengdengarnya.

Sekarang Mira dihadapanku dengan bantuan ibu sedang mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Aku tau Mira akan pergi ke Bandung karena waktu pengumuman hasil seleksi mahasiswa baru aku dipeluknya, Mira senang karena diterima di Universitas Negeri di Bandung aku pun ikut senang karena setelah hampir 6 bulan tak dipeluk aku di peluk kembali.

Aku tidak mau mengalihkan pandanganku dari Mira, minggu depan Mira akan pergi ke Bandung. Mira akan meninggalkan kamar ini dan meninggalkan aku. Selama ini walaupun Mira sudah mulai tidak peduli dengan aku tapi aku masih bisa melihat Mira setiap hari, lalu bagaimana nasibku setelah Mira pergi nanti. Aku tak sanggup membayangkan hari-hariku tanpa Mira, lebih baik aku bunuh diri saja.

Bunuh diri? Ya tampaknya menjatuhkan diri dari tempat tidur Mira merupakan jalan terbaik untuk menentukan nasibku, karena tanpa Mira apalah artinya aku. Ok aku akan loncat sekarang 1,2,3…

***

Bruuk…

Mira dan Ibu yang sedang memasukkan barang ke koper menoleh bersamaan, keduanya langsung menatap ke bawah tempat tidur arah suara itu berasal. Mira langsung berlari

“Ya ampun, bu kok ini Teddy Bear ku bisa jatuh ya dari tempat tidur” bertanya kepada ibunya “masa gara-gara angin ya bu? Teddy kan gede banget” Mira masih dengan muka bingungnya membawa Teddy Bear itu mendekat ke ibu nya.

“Kamu mau bawa Teddy Bear ke Bandung” tanya ibu seolah mengerti apa yang Mira pikirkan

“Boleh bu?” Mira menunggu jawaban ibu

Ibu pun mengangguk dan tersenyum. “Ma’kasih bu” Mira sambil mencium ibunya.

***

Ah ternyata usaha bunuh diriku gagal, Mira dan Ibu tahu apa yang aku lakukan. Tapi tak apalah, kegagalan bunuh diri itu membuat aku dibawa Mira ke tempat kosnya di Bandung,

Comments

Popular Posts