Duka Keluarga


Kita masuk tema ketiga, yaitu Duka Keluarga. Kembali ide cerita ini dari cerita nyata (efek ga berani ngayal) dari temenku yaitu Meika yang kehilangan kakak iparnya. Nah berikut ceritanya.

ASI untuk Kasih

Aku hanya punya seorang kakak laki-laki, mas Deny namanya. Aku selalu mendampakan punya kakak perempuan karena selama ini tidak ada temanku di rumah. Duniaku dan dunia mas Deny beda tapi kita tetap kompak kok.

Tiga tahun yang lalu aku menikah dan melangkahi mas Deny, mas Deny belum mempunyai calon yang pas jadi dia tidak ingin aku menunggu kelamaan jadi aku di izinkan menikah lebih dahulu.

Dua bulan setelah aku melahirkan anak pertama, mas Deny pun melangsungkan pernikahan dengan mbak Nisa. Kakak ipar yang sudah benar-benar aku anggap mbakku sendiri, kehadiran mbak Nisa seperti mimpi jadi kenyataan yaitu aku punya kakak perempuan.

Setiap aku membeli sebuah baju maka aku akan membelikan yang sama untuk mbak Nisa, begitu juga dengan mbak Nisa. Saat aku sedang ada masalah dengan suamiku maka aku akan curhat ke mbak Nisa. Rasa bahagiaku bertambah saat aku tahu mbak Nisa hamil itu berarti aku akan segera mempunyai ponakan jadi aku dan mbak Nisa bisa sama-sama mengurus anak.

***

Mas Deny dan mbak Nisa tinggal di Surabaya karena mas Deny di tugaskan disana, makanya saat mbak Nisa melahirkan kami sekeluarga ke Surabaya. Mbak Nisa melahirkan anak perempuan juga seperti aku, sebuah nama cantik diberikan dan kami memanggilnya Kasih. Anakku Sita juga senang akan kehadiran adek sepupunya ini.

Sejak melihat Kasih aku jatuh cinta, selama seminggu di Surabaya aku menghabiskan waktuku bersama Kasih,sampe mbak Nisa bilang “ kamu kangen punya anak bayi lagi ya? Ya udah toh dek nambah anak aja kan Sita juga udah mau dua tahun”

Aku tertawa mendengar kata-kata mbak Nisa “iya mbak, kangen punya anak bayi tapi nanti deh tiga tahun lagi baru kasih Sita adek, lagian ini aja Sita masih ASI mbak”

“Sita masih ASI ya Rasti, kamu hebat ya..kamu ibu yang hebat” puji mbak Nisa kepadaku

“Ah mbak, mbak juga hebat kok, mbak pasti bisa memberi ASI kepada kasih”

Waktuku mengunjungi mbak Nisa di Surabaya sudah habis, aku harus kembali ke Jakarta dan melanjutkan peranku sebagai seorang istri dan ibu.

***

Selang dua bulan sejak melahirkan Kasih, aku sudah kangen sama Kasih aku ingin ke Surabaya.Tapi suamiku mas Doni masih sibuk jadi rencananya akhir tahun kami sekeluarga aku, mas Doni, Sita, mama dan papa akan ke Surabaya.

Rencana sudah dirancang hanya tinggal memesan tiket pesawat sampai sebuah telpon dari mas Deny yang di terima oleh ayah. Ternyata mas Deny mengabarkan kalau mbak NIsa sakit, demam tinggi katanya. Kami diminta tenang oleh mas Deny katanya sudah ke dokter dan akan segera sembuh, mas Deny meminta kami mendoakan mbak Nisa.

Namun keesok harinya mas Deny kembali menelpon dan mengabarkan kalau mbak Nisa harus di rawat di rumah sakit. Ayah dan Ibu langsung memutuskan untuk berangkat ke Surabaya malam itu juga untuk menemani dan menguatkan mas Deny dan Kasih. Aku ingin ikut,tapi ibu bilang aku jaga rumah aja, toh mbak Nisa segera sembuh.

***

Ayah meminta aku menyusul mereka ke Surabaya. Aku kesana untuk memberikan ASI ku kepada Kasih, dia masih sangat membutuhkan ASI. Berangkatlah aku, Sita anakku sedangkan Doni akan menyusul aku jumat malam nanti.

Terkadang aku ingin ASI ku segera berhenti agar Sita mau berhenti minum ASI karena di usia Sita yang hampir dua tahun masih belum mau berhenti, tapi hari ini aku bersyukur ASI ku masih berproduksi dengan baik sehingga aku dapat memberikan ASI kepada Kasih.

Sesampai di Surabaya aku ingin segera ke rumah sakit untuk melihat mbak Nisa tetapi mama mencegahku, mama minta aku untuk ke rumah mas Deni saja dulu.

“Rasti, kamu nanti malam aja ya ke rumah sakitnya” kalimat pembuka mama saat menelpon aku, seperti biasa mama selalu tahu apa yang mau aku lakukan.

“Kenapa ma? aku mau lihat keadaan mbak Nisa sekarang”

“ Kasih lebih butuh kamu, dia butuh ASI kamu Rasti sudah 2 hari ini dia tidak minum ASI.” Mama memberikan penjelasan kenapa aku harus ke rumah mas Doni lebih dulu.

“Iya ma, Kasih jauh lebih perlu aku sekarang ini” jawabku mengakhiri telpon.

Sesampai di rumah mas Deni, aku langsung mencari Kasih dan Sita aku titipkan kepada si mbok. Ternyata Kasih sedang menangis, segera ku angkat Kasih dari dalam box, aku cium dan peluk bayi mungil ini, di dalam dekapanku tangisannya berhenti.

“Kasih, kamu kangen pelukkan Bunda Nisa ya nak. Tenang ya nak sekarang sudah ada mama Rasti disini” ucapku sambil terus memeluk Kasih.

Segera aku membersihkan diri karena saatnya aku menjadi ibu susu bagi Kasih, awalnya aku cemas takut kalau Kasih menolak meminum ASI ku, namun kecemasanku purnah saat Kasih mau meminum ASI ku, ternyata anak ini kuat juga minumnya.

Malam harinya aku diantar kerumah sakit, kakiku lemas melihat keadaan mbak NIsa. Banyak selang di tubuhnya, aku tak mengerti selang apa saja itu, aku tak paham penyakit apa yang diderita mbak Nisa karena yang mau aku mengerti dan pahami adalah mbak Nisa sembuh dan bisa merawat Kasih kembali.

***

Dua hari aku di Surabaya, belum ada perkembangan dari kondisi mbak Nisa malah semakin memburuk. Malah hari ini mbak Nisa harus masuk ke ICU. Semua berusaha ikhlas namun tak putus berdoa.

Setiap hari aku memberikan ASIku untuk Kasih, sekarang prioritasku Kasih sekalian mengajarkan Sita untuk minum susu instan. Setelah memberi ASI aku berangkat ke rumah sakit untuk menemani mas Deny dan menguatkan mas Deny.

Ini terlalu cepat, hanya dalam hitungan seminggu mbak NIsa jatuh sakit sampai akhirnya meninggalkan kami semua. Saat mas Deny masuk ke ICU dan benar-benar ikhlas melepas mbak Nisa, maka mbak NIsa pun pergi untuk selamanya.

Semua hancur, aku juga ikut hancur. Kenapa hanya sebentar Tuhan membuatku merasa memiliki kakak perempuan. Tapi semua meminta aku kuat karena Kasih dan Sita membutuhkan aku.

Mas Doni dan papa sudah lebih dahulu kembali ke Jakarta karena harus bekerja, sedangkan aku dan mama akan kembali ke Jakarta setelah acara tujuh harian mbak NIsa. Berdasarkan kesepakatan keluarga, Kasih di percayakan pengasuhannya ke aku untuk di bawa ke Jakarta karena Kasih masih sangat membutuhkan sentuhan seorang ibu dan ASI. Mas Deny pun ikut kembali ke Jakarta untuk menenangkan diri sementara waktu.

***

Sudah setahun kepergian mbak Nisa, Kasih tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. Anak yang penuh senyuman seperti Bundanya. Mas Deny sudah bisa menjalani kehidupannya di Surabaya dan bekerja lagi namun mas Deny masih memintaku menjaga Kasih di Jakarta.

Sita anakku pun sudah merasa bahwa Kasih adalah adiknya walaupun terkadang dia masih bertanya kepadaku “ Ibu, kenapa adek Kasih ada di rumah kita terus? Trus…trus kenapa om Deny nya di Surabaya ibu, dan kemana Bunda Nisa bu, kok aku ngga pernah liat lagi”

Ah anakku memang kritis, aku hanya bisa menjawab “ nanti kalau Sita besar pasti tahu semua jawaban itu, sekarang Sita harus sayang sama adek Kasih ya”. Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan ke Sita.

Melihat Kasih terkadang aku ingin menangis karena mengingat mbak Nisa, tapi saat ini Kasih dan Sita membutuhkan aku, aku harus kuat, aku ngga boleh stress karena Kasih masih membutuhkan ASI ku setahun lagi.

PS: Mbak Nisa, engakau akan terus menjadi Bunda nya Kasih yang hebat dan luar bisa.

Comments

Popular Posts