Kaum Marjinal


Ini tulisan terakhir saya di Tragedi yaitu kaum marjinal, jadi saya skip 2 tema yaitu sebatang kara dan nasib tkw. Nah untuk kau marjinal ini saya ambil transgender yang masih menjadi kaum marjinal di negara kita, berikut ceritanya

Tempatku layak, mereka?

Tepuk tangan semua hadirin mengiringi langkahku di atas catwalk, inilah akhir dari pagelaran akbar designer terkenal itu. Aku dipercaya menjadi model yang menggandeng sang designer dan mengenakan rancangan terbaiknya.

***

Aku Lena Lukmansyah, mungkin belum banyak yang mengenalku sekarang ini namun di dunia permodelan khususnya model catwalk namaku sedang di perbincangkan. Baru 2 tahun aku kembali lagi ke Indonesia setelah selama 5 tahun aku menata hidupku, mencari keyakinan siapa diri aku yang sebenarnya sampai akhirnya aku mantap dengan yang aku pilih.

Walaupun baru 2 tahun kembali ke Indonesia dengan postur tubuhku yang tinggi semampai, rambut panjang dan hitam, kulit mulus dan wajah yang cantik menjadi modalku masuk ke dunia model seperti yang dulu aku impikan. Orang-orang industri ini bilang wajahku unik sehingga banyak produk yang menginginkan aku menjadi model iklan produknya, sedangkan para designer mengincarku karena postur badanku yang ideal.

Jadi inilah aku sekarang dengan segala yang aku punya, pekerjaan sebagai model iklan dan catwalk tak henti datang. Limpahan materi pun mengiringinya aku sudah bisa membeli apartemen kecil dan mobil sendiri. Kehidupan sosialku pun sangat baik, aku punya banyak teman dan kami berpesta setelah setiap minggunya. Aku bahagia dengan semua ini, walaupun aku memulainya dari nol.

Memulai dari nol? Iya karena sebenarnya waktu kecil aku sebenernya sudah memulai karir di negeri ini, bukan sebagai model tapi sebagai penyanyi. Memang albumku tidak semeledak para penyanyi cilik seangkatanku tapi aku cukup sering di tampil di acara anak-anak. Dulu aku terkenal dengan nama Leo Lumansyah.

Iya, aku adalah seorang transgender. Sisi feminime di tubuhku sangat kuat, aku senang melihat jejeran make up yang ada di meja rias mamaku, aku senang kalau ada fans yang memberiku boneka dan aku selalu iri melihat para penyanyi perempuan memakai baju-baju cantik saat show.

Aku perempuan yang terkurung dibadan laki-laki itu kesimpulanku, sampai SMP aku masih harus bersekolah dengan seragam laki-laki. Mamaku nyadari ada yang salah dengan diriku, dia membawaku ke seorang psikolog dan psikolog itu meminta mama untuk mengikhlaskan apa yang terjadi sama aku.

Mama mungkin malu dengan keluarga dan tetangga, mama mengajakku tinggal diluar negeri. Di Negara yang baru aku menjadi seseorang yang baru juga dengan identitas yang baru. Walaupun awalnya mama malu dan ingin menyangkal keadaan ini, tapi akhirnya mama ikhlas dan membantu aku sepenuhnya berbentuk wanita. Aku dibawa ke dokter ahli untuk menangani hormon priaku, aku melakukan operasi kelamin dan pembuatan payudara.

Setelah aku menjadi seorang wanita baik secara mental dan fisikku, barulah mama membawaku kembali ke Indonesia lengkap dengan nama baruku. Inilah aku hari ini.

***

Fashion show tadi sukses dan aku sangat letih, aku harus segera pulang karena besok siang aku harus bersiap latihan blocking untuk fashionshow besok malam. Jalan menuju apartemenku melewati Taman Lawang, aku lihat mereka yang bernasib sepertiku namun tak dapat kehidupan layak. Mereka kaum yang masih dipandang sebelah mata di negera ini.

Comments

Popular Posts