Kecelakaan


Tema yang ke dua dari Tragedi adalah Kecelakaan, tambah horor dan tambah takut berimaginasi nih. Jadi ide cerita ini sebenernya dari kisah nyata anaknya tetanggaku yang kecelakaan saat latihan pesawat, tapi di tambahin drama di dalamnya. Ini cerita dapet banyak kritik di web karena tidak memerhatikan beberapa detail. Nah coba di baca ya

Have A Nice Flight, Captain

Aku menghela nafas untuk kesekian kalian, aku mencoba menyakinkan diri bahwa aku sanggup untuk melakukan perkerjaan ini. Mobil jemputan sudah di depan rumah, koper pun sudah siap dan aku juga sudah mengenakan seragam yang sudah aku impikan, aku dan kamu impikan tepatnya.

***

Mungkin ini hari paling bahagian buat aku dan Reza. Reza adalah tetanggaku dan juga sahabatku, Reza lebih tua 2 tahun, aku yang anak tunggal seolah mendapatkan sosok kakak di dirinya. Sejak kecil cita-cita kami tidak pernah berubah, Reza yang anak seorang Pilot sangat menginginkan menjadi seorang Pilot juga dan aku yang selalu bersamamu dan ingin terus bersamamu maka ku pilih Pramugari sebagai cita-citaku.

Aku pikir itu hanya cita-cita masa kecil atau karena permainan pilot-pramugari yang sering kami mainkan yang membuat aku dan kamu memiliki keinginan itu . Ternyata tidak, impian itu terus kami bawa sampai hari ini.

Hari ini adalah pengumuman diterima atau tidaknya aku dan Reza di maskapai penerbangan no 1 di Indonesia, maskapai yang menjadi tempat kerja impian aku dan Reza. Tuhan memang baik dan sayang kepadaku dan Reza, setelah melalui berbagai tes dan pelatihan akhirnya aku dan Reza resmi diterima di maskapai itu. Mimpi kami menjadi kenyataan.

***

Bulan depan, ya sebulan lagi aku dan Reza akan mulai bekerja dan terbang bersama. Sambil menunggu waktu itu aku ingin menikmati liburan ke Bandung, ku ajak Reza bersamaku tapi...

“Chika, maaf ya aku ngga bisa ikut ke Bandung” menolakkan secara langsung dari Reza saatku ajak ke Bandung.

“ Kenapa Za? Kan kita perlu liburan dulu sebelum mulai kerja nanti”

“Tanggalnya bentrok chik sama jadwal ngajar aku, ini kelas terakhir aku sebelum aku resmi terbang nanti” itu jawaban Reza.

Reza sebagai lulusan terbaik di sekolah penerbang diberi kepercayaan untuk mengajar junior-juniornya, dia mengajar karena kecintaannya dengan penerbangan, ia ingin berbagi ilmu kepada juniornya dan sekaligus menunggu pengumuman penerimaan tadi.

Tampaknya Reza tau kalau aku kecewa, selayaknya seorang kakak yang baik dia mencoba menyenangkan aku.

“Chika, ini kan kelas terakhir kamu ngertikan. Abis itukan masih ada seminggu sebelum kita mulai kerja, aku janji deh kita akan liburan singkat.”

Bujukkan Reza dengan tawaran liburan lain itu membuatku tidak mempermasalahkan bahwa aku harus ke Bandung tanpa Reza.

***

Malam ini merupakan malam terakhir aku di Bandung dan besok aku akan kembali ke Jakarta, oh iya tadi pagi merupakan latihan terakhir Reza melatih juniornya, kenapa dia belum menelpon aku ya? Tiba-tiba aku teringat Reza. Sudahlah besokkan aku akan bertemu dengan Reza. Liburan kali ini benar-benar aku nikmati, sampai-sampai selama di Bandung aku ngga nonton tv apalagi baca koran.

Pagi ini pintu kamar diketok ternyata pihak hotel mengantar Koran pagi , aku melihat headline di koran itu “Kecelakaan pesawat latihan” , namun ku abaikan koran itu dan aku turun ke bawah untuk sarapan.

Saat sarapan, mama menelpon aku

“Chika, kamu jadi pulang hari ini?” suara mama terdengar sedikit aneh

“Iya, jadi ma, kenapa?” sejujurnya aku penasaran

“Mama mau kerumah sakit, Reza kecelakaan” jawab mama yang berusaha setenang mungkin mengabarkanku.

“Hah. Reza!! Yang di koran itu”

Tanpa mendengar kata-kata mama di telpon, aku meninggalkan sarapan dan berlari ke kamar dan mencari koran tadi dan membacanya. Aku sempat menyesal kenapa aku tadi mengabaikan koran itu,tidak membacanya.

Tubuhku lemas, pikiranku kacau tapi aku berusaha untuk membaca koran itu, aku mau tahu apa yang membuat Reza kecelakaan.

“ Kecelakaan pesawat kembali terjadi, kemaren sebuah pesawat latihan yang akan mendarat menabrak sepeda motor yang nekad memasuki landasan pesawat. Saat ini seorang taruna dan instruktur dalam keadaan kritis”

Aku hanya sanggup membaca di paragraf awal, aku tak sanggup membaca lagi setelah melihat foto pesawat yang Reza bawa hancur lebur di koran tersebut. Aku segera berkemas untuk pulang ke Jakarta.

***

Ku peluk tante Rita di rumah sakit, aku coba kuat walaupun air mata ini tak henti sejak dari Bandung. “Tante kuat ya tan, biar Reza kuat” sekuat tenaga aku ucapkan kata-kata itu

“Chika, chika...tante ngga sanggup. Kamu sudah lihat keadaan Reza kan?” Tante Rita terus memelukku seolah mencari kekuatan.

“Iya tante, tapi pasti masih ada harapan tante”

Kondisi Reza memang benar-benar kritis, kalau aku boleh jujur aku pesimis melihat kesembuhan Reza. Malam ini Dokter mengatakan bahwa jaringan di kaki Reza hancur dan untuk menyelamatkannya harus dilakukan tindakkan amputasi.

Amputasi? Apalagi ini Tuhan, aku dan keluarga Reza hancur mendengar keputusan dokter.Namun, tidak hanya kami yang hancur, impian Reza menjadi pilot pun akan hancur karena tidak mungkin seorang Pilot hanya memiliki satu kaki. Kami semua menginginkan Reza kembali ketengah-tengah kami sehingga surat izin untuk mengamputasi pun di tanda tangani papanya Reza.

Aku terus menunggu Reza sadar, aku coba ajak Reza bicara terus walapun aku tahu aku takkan mendapatkan jawaban.

“Reza, ayo bangun dong. Katanya kita mau liburan berdua, kamu kang sudah janji.”

“Reza, nanti kamu tetep bisa naik pesawat kok trus nanti aku yang jadi pramugarinya jadi kita tetap bisa terbang bareng.”

Rasanya air mataku hampir kering, memasuki hari kelima Reza belum juga sadar. Tante Rita sudah menyiapkan team psikologi untuk menenangkan Reza saat dia sadar nanti dan menyadari kakinya hanya satu, kami terus menunggu dan menunggu kesadaran Reza.

***

Pagi ini Reza menghembuskan nafas terakhir setelah Reza mengalami kegagalan pernafasan.Reza dibawa pulan, dimandikan dan dikafankan. Rumah Reza dipenuhi pelayat mulai dari tetangga, teman-teman di sekolah penerbangnya bahkan media pun hadir. Mereka semua ingin mengantarkan Reza ke peristirahatan terakhir.

Tante Rita histeris namun mencoba untuk ikhlas, lalu aku? Aku berusaha untuk mengikhlaskan Reza, mengikhlaskan sahabatku, abangku dan calon rekan kerjaku ini untuk terbang ke alam lain.

Have a nice flight Captain, Safely landed in heaven” ucapku sambil meletakkan mawar di atas makam Reza.

Comments

Popular Posts