Pengkhianatan


Tema selanjutnya tentang pengkhianatan, dicerita ini aku coba bikin tanpa dialog. Nah coba di baca ya

Apakah aku setia?

Namaku Anto, aku hanyalah seorang pria paruh bayah yang tak memiliki selembar ijazah dari sekolah formal. Menurut ibuku di kampung, kalau aku sudah bisa baca dan menulis itu sudah cukup jadi tidak perlu menyelesaikan sekolah. 10 tahun yang lalu berbekal sedikit uang aku mencoba mengadu nasib ke ibu kota. Memang tidak mudah mencari pekerjaan di Jakarta apalagi untuk seseorang seperti aku.

Nasib membawaku di kantor ini, kantor cabang sekretariat sebuah partai politik, di kantor ini mungkin orang tidak menganggap aku tapi keberadaan aku di kantor ini dapat membantu kerja sebagian dari mereka. Kalau ada yang meminta aku menjelaskan posisiku di kantor ini apa mungkin aku akan menjawabnya posisiku sebagai pembantu umum.

Setiap harinya aku datang paling pagi di kantor ini, dimulai dengan membersihkan seluruh kantor, mempersiapkan minuman seluruh staf,jika ada rapat aku juga bertugas menyiapkan konsumsi rapat tersebut. Siang harinya tugasku membelikan makan siang orang-orang yang malas beranjak keluar kantor.

Mereka memang suka menyuruh aku tapi mereka juga baik karena mau berbagi ilmu kepadaku. Aku diajarkan cara menggunakan mesin fotocopy dan mesin fax, walaupun pada saat aku sudah bisa menggunakan kedua mesin itu mereka kembali menyuruh aku melalukan tugas yang seharusnya mereka kerjakan.

Semakin lama aku di kantor ini aku merasa semakin pintar, ah tapi mungkin itu hanya perasaanku karena mereka yang berada di kantor ini jauh lebih pintar karena berhasil mendapatkan simpati rakyat untuk memilih mereka dan partai mereka.

Aku tidak punya alasan yang pas untuk meninggalkan kantor ini karena diluar sana belum tentu bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Semakin lama aku di kantor ini, mereka juga semakin baik walaupun sekali lagi aku tekankan mereka tidak menganggap aku. Saat ada perayaan di kantor ini aku akan menjadi orang yang paling sibuk menyiapkannya, saat perayaan berlangsung aku harus menyingkir dan kembali saat perayaan selesai untuk membereskan semuanya tetapi aku coba menikmati itu semua.

Hari ini kantor tampak rame, tidak hanya rame oleh penghuni kantor saja tapi kantor ini sedang kedatangan para marketing mulai dari marketing rumah, mobil, motor, asuransi bahkan marketing perlengkapan rumah tangga pun ada. Semua sibuk mengambil brosur, mencari-cari barang yang cocok untuk mereka. Aku tidak mengerti apa yang sedang atau terjadi di kantor ini.

Kemudian seseorang petinggi di kantor cabang ini memanggil aku, ternyata dia memintakan aku mengantarkan seorang staf nya dengan sepeda motor menuju sebuah Bank yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kantor ini.

Aku ikut ke dalam Bank itu, aku melihat pemandangan yang menakjubkan staf itu hanya memberikan selembar kertas lalu mbak cantik yang ada di bank itu memberikannya bertumpuk-tumpuk uang.

***

Kepala cabang menerima telpon dari staf yang tadi dia suruh pergi ke Bank, wajahnya menegang dan bersiap meledakkan amarah, kemudian dia keluar ruangannya dan masih melihat pemandangan seluruh staf sibuk dengan para marketing. Kepala cabang berteriak kencang, semua menoleh. Kepala cabang mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil membuat seluruh orang di kantor itu terkejut, mereka terduduk lemas, lembaran brosur terlepas dari tangan dan berserakkan di lantai dan para marketing memutuskan meninggalkan kantor ini secepatnya.

***

Di sebuah restoran sekarang aku berada, aku senang menikmati sesuatu yang sebenarnya bukan hak aku tapi aku ingin menikmatinya. Aku ajak ibu berkeliling kota ini, membelikannya pakaian dan mengajaknya makan enak, mungkin setelah makan kami akan membeli sebuah rumah untuk ibu.

Anto itu bodoh namun setia, mungkin itu anggapan mereka kepada aku sampai staf itu dengan tanpa perasaan curiga menitipkan tas berisi tumpukkan uang dan mengatarkan tas itu ke kantor dan menyerahkannya kepada kepala cabang.

Aku memang bodoh namun aku tahu apa itu uang

Comments

Popular Posts