Perang

Tema selanjutnya perang, awalnya pengen bikin cerita tentang perang beneran tapi tiba-tiba ada ide buat bikin perang dalam versi yang lebih ringan, nah inilah hasilnya

Soto Padang vs Nasi Uduk

Hari masih pagi namun keributan sudah membahana di gang rumahku. Sumber kegaduhan ini seperti biasa berasal dari rumah ku dan tetangga depan rumahku.

Oh iya, namaku Reni Syahputri namun karena amak (panggilan untuk ibu orang Sumatera Barat) memanggilku dengan sebutan “upik” hampir semua teman dan tetangga ikut memanggilku upik juga. Nah, nama amak ku ini Rosmaita dan orang-orang memanggilnya uni Ros. Ayahku mempunyai toko di Tanah Abang sedangkan amak menjual soto padang di depan rumah, kata para pelanggan Soto Uni Ros adalah soto terenak.

Tetangga depan rumahku ada emak Rodiyah, betawi tulen yang menjual nasi uduk di depan rumahnya. Nah suami emak Diyeh (begitu orang memanggilnya) itu punya usaha jual-beli kambing. Mereka punya seorang anak yang seumur denganku Jamil namanya.

Entah sejak kapan perseteruan antara amak dan emak ini terjadi, seingatku waktu aku dan Jamil kecil semuanya aman dan terkendali. Kalau salah satu dari mereka harus ke pasar maka saling menitipkan anak, kalau siang hari mereka suka pergi mengaji bersama atau kadang sekedar mengobrol di depan rumah masing-masing, ya kami kan tinggal di gang jadi jarak satu rumah dengan depannya tidak terlalu jauh.

***

“eh elo Ros, ngapain ngambil pelanggan gw” emak Rodiyah memulai pertengkaran pagi ini

“ Indak, nda ado tuh ambo ambil pelanggan, mereka datang sendiri” amakku membalas kata-kata emak dengan tak mau kalah. Mereka berdua seperti anak kecil saat bertengkar, tak ada yang mau kalah. Sebuah kalimat yang diucapakan oleh emak atau amak dapat memulai pertengkaran.

Untuk urusan fasilitas warung pun mereka tidak mau kalah, saat di warung amak di pasang kipas angin, emak sibuk meminta kepada suaminya

“bang….abang, tuh warungnya si Ros masa dipasang kipas. Warung aye juga dong pasangin kipas”

“ Iye..iye, ntar abang pasangin” jawab suaminya cepat agar emak Rodiyah tidak terus menerus meminta”

Begitu juga sebaliknya saat warung emak Rodiyah menyediakan televisi , amak pun panas di buatnya dan langsung minta ke apak “ uda, belikan televisi ya da..kaya warungnya si Rodiyah. Kalau ngga di pasangan nanti pelanggan kita pindah semua” , apak aku pun mengamini permintaan emak.

Mereka selalu bersaing untuk mendapatkan pelanggan, salah satu dari mereka tidak akan rela jika ada salah satu warung yang rame. Suami-suami pun sudah berusaha untuk mendamaikan mereka.

Aku dan Jamil sebenarnya ingin mendamaikan mereka namun amak dan emak sudah lebih dahulu mengeluarkan pernyataan bahwa aku dan Jamil tidak boleh berteman lagi dan itu mereka katakanan saat bertengkar karena ada pelanggan amak yang makan di tempat emak.

****

Aku dan Jamil sudah hampir 3 tahun ini menjalin cinta, sebenarnya kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama tapi itu kami lakukan setelah jauh dari pandangan emak dan amak. Selama ini amak dan emak tidak tahu kalau ada hubungan special antara aku dan Jamil.

Saat dirumah dan melayani warung masing-masing, aku dan Jamil bersikap seolah-olah mematuhi semua perintah amak dan emak kita. Sebenarnya kami capek menjalani hubungan seperti ini tapi kami belum cukup berani jujur kepada emak dan amak karena pasti akan terjadi perang dunia di gang kami.

Aku dan Jamil masih berusaha mengumpulkan keberanian itu, semoga saja perseturuan soto padang dan nasi uduk itu segera berakhir agar kami jauh lebih mudah menjalani hubungan ini.

Comments

Popular Posts