Creative Thinking For Creative Child

3 post-an terakhir di blog ini bercerita tentang sekolah Agad, ngga sengaja tapi kayaknya sekolah anak memang menjadi topik yang sedang sering dibicarakan.

Kebanyakkan orang tua cenderung memiliki impian anak yang pintar dibandingkan anak yang kreatif. Dokrin yang kita terima dari kecil adalah jadi anak pintar biar sukses dan itu tidak bisa di salahkan. Tapi jaman berubah di abad 21 ini kita dan generasi selanjutnya yaitu anak kita,dituntut untuk tidak hanya sekedar pintar tetapi juga kreatif.

Kenapa? Semua yang ada di dunia ini berkembang ,banyak perubahan dan  ada hal-hal harus dihadapi tidak hanya dengan kepintaran namun dengan kreatif tersebut, bahkan hal-hal kreatif pun sudah bisa menjadi sebuah mata pensebuahan atau kita sebut ekonomi kreatif.

Negara kita pun juga mendukung hal ini terbukti dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif Indonesia sehingga membentuk generasi yang pintar dan kreatif itu menjadi sebuah keharusan bagi kita para orang saya.

Muncul pertanyaan baru, bagaimana membentuk anak menjadi anak yang pintar dan kreatif?

Akhir Agustus lalu tepatnya tanggap 27, saya di undang untuk hadir di sebuah acara Talkshow persembahan Sampoerna Academy bekerjasama dengan komunitas Joy Parenting membahas “creative thinking for creative child”.
Acara ini menghadirkan 3 tokoh yang ahli dibidangnya masing-masing, ada bapak Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Ibu Retno Dewanti Purba,S.Psi seorang psikolog anak terkemuka dan mbak Yannik Herawati selaku Kepala Sekolah Sampoerna Academy.


Dalam talkshow ini bapak Triawan Munaf menekankan “Saat ini, kreativitas generasi muda sangatlah diperlukan agar kelak dapat bersaing dan memajukan industri kreatif Indonesia.Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pinter,namun inovatif dan mampu secara kreatif memecahkan masalah,mengambil keputusan serta berpikir kreatif.


Disinilah peran orangtua untuk lebih fokus memperhatikan kepintaran dan kreatifitas anak, orangtun harus berusaha mencari dan memberikan pendidikan yang berkualitas yang dapat mendorong kreativitas anak dan mendukung pencapaian mereka dikemudian hari.

Namun sayangnya,pemahan anak kreatif masih miskonsepsi,dimana kreatif diasumsikan dengan hal-hal yang berbau seni padahal tidak seperti yang dijelaskan ibu Retno Dewanti bahwa kreativitas tidak terbatas pada kemampuan di bidang seni, namun juga berhubungan dengan pengusaan di bidang sains, matematika, serta kecerdasan sosial dab emosional.
Bahkan ibu Retno menegaskan bahwa kreativitas tidak hanya membutuhkan imajinasi dan aspirasi pada anak, namun juga proses disiplin untuk memacu kemampuan, pengetahuan dan kontrol diri.Orangtus perlu mendukung kemampuan anak untuk lebih kreatif dengan memastikan edukasi yang diberikan berkualitas tinggi dan merangsang cara berpikir kreatif.

Peran orangtua sangat penting dalam perkembangan anak, memberikan ruang pada anak untuk berinovasi serta peka terhadap minat dan bakat yang anak miliki. Jika orangtua sudah mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat sang anak,maka selaku orangtua sudah semestinya memberikan sarana pendidikan yang berkualitas dengan memilih sekolah berkualitas yang bisa membuat anak berkembang, bukan sekedar pintar tapi juga kreatif dalam berbagai hal.

Pendidikan di Abad 21 sudah mulai beragam, untuk menciptakan generasi muda yang pintar dan kreatif sebaiknya memilih sekolah yang lebih mengeutamakan proses daripada hasil yang dicapainya.

Sampoerna Academy,dibawah naungan Sampoerna School System dimana sebuah sistem edukasi terintegrasi pertama di Indonesia dengan sistem edukasi modern berbasis STEAM (science, Technology, Art, and Math) yang sudah lama menjadi system pendidikan di Amerika, berkomitmen untuk mencetak siswa siswi kreatif dengan kualitas terbaik yang siap menghadapi tantangan global masa depan.

Di Sampoerna Academy, para siswa siswi akan belajar mengenai bagaimana cara untuk memecahkan dan menganalisa masalah menggunakan teknologi dan strategi pembelajaran kolaboratif, pendekatan edukasi dan aktivitas di bidang Sains, Teknologi, Seni dan Matematika untuk memacu pemikiran kritis dan kemampuan dalam memecahkan masalah.Selain itu juga ditanamkan budaya kolaborasi dan berinovasi dalam keseharian mereka agar tumbuh semangat untuk bereksplorasi, bermimpi dan mencari solusi dengan cara-cara baru dalam berpikir dan berperilaku.


Kepala sekolah Sampoerna Academy yaitu mbak Yannik Herawati pun menjelaskan bahwa Sampoerna Academy menerapkan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Tingkat Menengah Atas mendapatkan sistem pengajaran yang mengedepankan creative thinking dalam keseharian mereka.

Sehingga bisa dikatakan Sampoerna Academy adalah sekolah STEAM selayaknya pendidikan yang diterapkan di Amerika sehingga nantinya lulusannya pun dapat bersaing secara global.

Diacara tersebut juga langsung ada contoh dari aktifitas yang mengedepankan creative thingking. Ada 2 pilihan yang bisa anak kita pilih yaitu Playdate Arts&Craft atau Lego STEAM Learning.





Kedua aktifitas tersebut dibuat dengan sangat menyenangkan sehingga anak-anak dapat mempelajari berbagai hal yang dapat menstimulasi kreativitas mereka.

Agad sendiri untuk mengikuti kelas Lego, selama 2 jam saya mengikuti talkshow Agad sangat senang berada di kelas Lego karena dengan lego-lego yang disedikan Agad bisa membuat apa saja sesuai imaginasi dia.




Talkshow ini juga membuka mata saya sebagai orangtua dari seorang anak berumur 4 tahun untuk lebih banyak meluangkan waktu bareng anak agar bisa lebih memberikan banyak terpaan positif serta pengalaman-pengalaman baru agar saya bisa mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat dari Agad.

Persepsi saya pun harus berubah yang awalnya masih terbawa dokrin anak harus pintar atau orientasi pada hasil akhir seperti nilai bagus, sekarang harus lebih menghargai proses belajar yang Agad lalui dan menapresiasi setiap kreativitas yang Agad hasilkan.

Agad sendiri bukalah tipikal anak yang bisa di ajak belajar sambil duduk diam dan rapi. Agad lebih senang belajar dengan cara yang lebih santai seperti mengenal angka dia tidak akan mau dihadapkan dengan buku tapi Agad lebih memilih untuk menjejerkan mainannya lalu dia hitung 1,2,3......dsb.

Jika saya amati ini berarti Agad memiliki sisi kreatif yang tidak terkait dengan seni tapi matematika yang dia modifikasi. Sebagai orangtua, saya harus memastikan memilih sekolah yang bisa mengakomodir itu serta memberikan kesempatan untuk Agad mengembangkan kreativitasnya.

Agad sekarang sekolah di level pre-kindie,tahun depan Agad akan TK. Banyak yang menyarankan jika memilih TK kita sudah tahu akan memasukkan dia ke SD mana,agar saat di TK bisa maksimal memberikan bekal untuk dia di SD nanti.

Seperti yang dikatakan mbak Yannik bahwa wawasan para orangtua akan menjadi lebih terbuka mengenai pentingnya membentuk generasi muda yang kreatif melalui metode pendidikan yang mampu secara efektif mendorong kecerdasan anak Indonesia, baik dari sisi kualitas akademik maupun tingkat kreativitas mereka.

Jadi kalau saya ditanya "Apakah dengan talkshow ini membuat saya perpikir ulang dalam memilih sekolah untuk Agad?"  , maka jawab saya " IYA".



Comments

Popular Posts